Kamu, Aku dan Dia

Lantunan lagu itu lagi, kadang aku bosan mendengarkannya. Ya, ini membuatku mengingatkan lagi ke masa dua tahun bahkan tiga tahun ke belakang. Ketika aku masih berkeliaran dengan si kebo merahku, mengelilingi jalanan melawan teriknya matahari bahkan menerjang hujan di kota kecil yg di dalamnya tersimpan banyak kenangan tentang kamu, aku dan dia.

Kenangan yg menjadi bomerang buatku, ini akan selalu ada di dalam memoriku entah sampai kapan. Mungkin akan menjadi sebuah cerita esok untuk anak cucuku. Ketika sebuah kenangan bercampur haru, tangis, tawa dan bahagia ini menjadi part sendiri dalam hidupku. 

Masih ingat jelas dalam kepalaku, ketika jarak sudah tak lagi jadi penghalang hampir tiap hari aku menempuh berkilo-kilo meter untuk bercengkrama denganmu, mendengarkan ceritamu diiringi lagu jazz kesayanganmu. 

Masihkah kau mendengarkan lagu itu?

Aku masih ingat sekali kamu selalu pamer lagu baru yg habis kamu download dan langsung memutarkannya kepadaku. Akupun selalu membawakan makanan kesukaanmu dan kamu pun membuatkanku secangkir teh hangat untuk teman ngobrol kita.

Lalu, kamu berkisah tentang tugasmu yg banyak dan membuatmu pusing, kemudian aku pun tak kalah menceritakan tugas praktekku yg seabrek dan belum cerita tentang pekerjaanku di sebuah studio photo yg mengharuskanku untuk setiap hari bermain dengan photoshop.

Kamu juga kadang sering membantu pekerjaanku disaat aku butuh sebuah tiga dimensi. Aku tau, kamu jago soal ini. Dulu, kamu suka memperlihatkan hasil karyamu kepadaku. 

Kamu ingat pertama kali kita ketemu?
Kamu masih menjadi freelance di radio itu, dan kita sama-sama dalam satu project kerjaan. Kemudian kita saling tukeran nomor ponsel, dan obrolan cupu di pesan singkat itulah yg membawa kita menuju ke sebuah cerita baru.

Film demi film tak pernah kita lewatkan untuk melihatnya di layar lebar. Ya, aku suka saat itu, akhirnya aku menemukan teman yg sama. Tepatnya teman untuk melakukan hobi yg sama. Aku dan kamu saat itu ya tapi saat itu.

Ah, aku selalu rindu masa ini! 

Dan kemudian semuanya hancur karena aku sendiri, kecurigaanku terhadap Dia. Temanku sendiri, namun aku juga tak menyangka ternyata Dia. 

Mungkin semuanya memang berawal dariku, kalian kenal dan saling menyapa. Ah sudahlah, sudah cerita lama. Semoga kamu dan dia akan menjadi lama entah sekarang dan sampai kapan pun.

Dan, aku berterima kasih akan secarik cerita yang singkat denganmu. 
Kadang aku masih merindukan masa-masa itu.

Ah, sudahlah!





Comments

Popular Posts