Ini Hanya Tentang Kita

Masih musim hujan saat itu, ponselku berdering. Itulah pertama kali aku mendapatkan pesan pendekmu. Sekedar basa-basi memang, menanyakan hal yg tak perlu ditanyakan. Aku pun santai membalasnya dan dengan bahasa nyelenehku bercanda seperti biasa.

Hobi yg sama, inilah yg membuat kita saling kenal dan saling dapat bercengkrama serta ngobrol nyambung. Hanya itu yg sama dari kita, aku dan kamu sama-sama suka bola dan keranjangnya.

Tahun itu awal semester, kita memulai cerita sangat singkat. Pertama kali jalan, pertama kali juga aku membuka hati lagi setelah sekian lama. Obrolan denganmu membuatku merasa aku punya teman lagi. Makan siang bareng, kemudian kamu menjemputku dari kosan sampai kampus juga. Oh ya, kita satu kampus tapi beda jurusan.

Sebulan kita membuat kisah singkat yang penuh tawa, duka bahkan tangis. Sebulan namun serasa setahun, lebay memang tapi inilah yg aku rasa. Singkat padat dan jelas, akupun sampai sekarang masih teringat dan kadang tidak percaya keputusan saat itu. 

Lalu, aku dan kamu memulai babak baru lagi dan cerita baru lagi dengan pasangan kita masing-masing. Tapi, kenangan itu tak akan pernah hilang. Aku hafal kamu, dari jauh siluet wajahmu pun aku sudah mengenalinya. Kadang, aku suka mencuri pandang dari parkiran melihat sosokmu. Mungkin saat itu aku sudah lupa, namun kenangan masih ada dan tak akan pernah terlupakan.

Dua tahun pun berjalan tanpamu, dan kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing dengan cerita yg berbeda pula. Dulu aku tidak percaya kalau jodoh tidak akan kemana, dan orang bilang, waktu yg akan menjawab, tapi ini yg aku alami. 

Berawal dari iseng juga, aku mencoba mengajakmu ngobrol disebuah jejaring sosial. Kamu pun membalas, biasa obrolan basi dan sekedar menanyakan kabar. Jujur, saat itu aku rindu kamu. 

Rindu saat kamu merelakan jaketmu untukku, ketika hujan turun dan kita sedang melihat sebuah pertandingan bola basket.

Inget nggak kalau saat itu pula pertama kali kita pergi bareng =D

Rindu saat aku mulai lelah dan menyandarkan kepala di pundakmu, lalu bercerita tentang keseharianku, kamu pun mendengarkan dengan tatapan hangat.

Rindu saat kamu bersabar ketika aku mulai mengeluh, ya mengeluh tentang kita mengeluh tentang kamu yg cuek, mengeluh tentang kamu yg lebih mentingin main game daripada jalan bareng.

Rindu saat kamu menenangkanku ketika aku menangis, dan mengecup hangat keningku serta memelukku dengan erat. 


Fyuh, aku rindu semua itu sekarang.


Oh ya, dari keisenganku itu kamu pun mulai merespond dan kita pun mulai kembali berhubungan. Aku masih inget juga, itu semester akhir dimana kita sudah mulai sibuk dengan tugas-tugas akhir. 

Kamu yg malas, kamu yg bosan, kamu yg jenuh dengan semua tugas kuliah. 
Kamu yg lebih memilih tidur, dan main game sepuasnya daripada mengerjakan tugas.
Kamu yg ngambek saat aku sudah mulai marah ketika tugas itu tidak kamu kerjakan.

Tapi, itu semua bisa kita lalukan bersama.
Kita saling mengingatkan, walau tampangmu sudah ogah-ogahan.
Kita saling melengkapi, walau aku kadang capek dan kamu lelah.
Kita saling ngambek, saat salah satu dari kita sudah mulai berontak.

Aku tau, kamu capek.
Aku tau, kamu lelah.
Aku tau, kamu bosan.

Tapi, itu semua demi kebaikanmu.

Sebenarnya kamu masih ingin bermain, dan ingin bersenang-senang.
Tapi, aku selalu mengingatkanmu tentang masa depan, ya saat itu aku masih berpikiran tentang kita, its mean masa depan kita.

Kita punya mimpi, saat itu.
Kita punya keinginan, saat itu.


Jarak pun sempat kita perjuangkan untuk kita lalu, saat itu menjelang hari ulang tahunmu ke dua puluh dua, aku memutuskan untuk pergi merantau ke pulau sebrang. 

Aku tau kamu tidak suka.
Aku tau kamu marah.
Tapi …….

Dengan keterpaksaan, kamu merelakanku untuk pergi.
Ini pun berat buatku, untuk pertama kalinya aku melewatkan jarak yg amat jauh.
Baru tersadar, aku rindu kamu saat jauh seperti saat itu.
Aku benar-benar asing di tempat orang.
Sendiri, tak ada yg aku kenal.
Hanya kamu saat itu yg tiap malam menelfonku dan kita berbincang lalu aku menangis kesepian.

Kamu menegarkan aku, saat itu.
Kamu menguatkan aku, saat itu.

Itu yg membuatku bisa bertahan disana.

Tak lama kemudian, aku datang untuk menyelesaikan tugas akhirku.
Kamu pun memelukku erat saat itu, ya aku pun begitu.
Tiga hari kita bertemu, aku pun kembali kesana lagi.

Pertengkaran dan beberapa kali kamu marah, aku ngambek.
Tapi kita bisa lewati itu.

Wisuda, dan kita akhirnya wisuda bersama.
Aku tak menyangka kita bisa bersama, aku bangga sama kamu.
Kamu bisa menuntaskannya.
Kemalasanmu, kebosananmu.

Saat itu kamu berjanji, kita akan bersama selamanya.
Ya, saat itu aku pun berpikir begitu.

Namun rencana Tuhan, 

Kita selesai …… dan kita memilih jadi teman.

Satu bulan bersama, dua tahun menghilang, satu tahun bersama.

Buat kenanganmu, aku akan ingat ini.


*Mocca - I Remember


Comments

Popular Posts